Titimangsa

Bunga Penutup Abad


“Bunga Penutup Abad” berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani kemanapun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies dan Panji Darman.

Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.

Di antara setiap surat, Minke mengalami beberapa kejadian yang memperlihatkan kebobrokan Eropa dan media Eropa tempatnya bekerja yang selama ini selalu diagung-agungkan dan dibelanya itu. Kejadian itu membuka mata Minke bahwa Eropa tidak selamanya benar. Minke yang selalu menulis dalam Bahasa Belanda itu diberi masukan oleh Jean Marais, temannya, untuk mulai mengenal lebih dalam bangsanya sendiri dan menulis dalam Bahasa Melayu.

Cerita berakhir beberapa saat ketika Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang dilanda kesedihan kemudian meminta izin pada Nyai Ontosoroh untuk pergi ke Batavia melanjutkan sekolah menjadi dokter. Ke Batavia, Minke membawa serta lukisan potret Annelies yang dilukis oleh sahabatnya Jean Marais. Minke memberi nama lukisan itu, Bunga Penutup Abad.

Bunga Penutup Abad telah dipentaskan dua kali pada tahun 2016 di Gedung Kesenian Jakarta dan tahun 2017 di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Bandung.