Titimangsa

Monolog Inggit


“Meski aku mengawininya, tapi Inggit tetaplah wanita utama, istri utama”.

Banyak sekali sanjungan yang dibuat untuk perempuan yang mau patuh dan diam pada kemauan lelaki. Buatku sanjungan itu adalah muslihat. Biarlah aku tak pernah menjadi wanita utama atau istri utama karena aku telah mengambil hakku atas kata “Tidak”.

Kalau Kusno berani mengatakan “Tidak” pada kolonialisme, mengapa aku mesti tidak berani mengatakan hal yang sama padanya ketika dia ingin menjadikan perempuan sebagai koloni lelaki? Seperti tanah air yang dibelanya, aku bukanlah koloni.

Sebagai istri, tugasku sudah selesai. Mendampingi Kusno untuk tabah dan selalu setia berkata “Tidak” pada kolonialisme. Sebagai perempuan aku sudah menunaikan kewajibanku, mengatakan “Tidak” pada kemauan seorang lelaki bernama Kusno. Dan demi kata itu, baik aku memilih kembali ke Bandung. Membawa kembali peti tua ini dan semua harga diriku…  

Tapi satu hal yang ingin aku katakan padamu tentang Kusno, aku tetap menyayanginya…

Demi kata “Tidak” pada keinginan Kusno—lelaki yang kita mengenalnya sebagai Ir. Soekarno atau Bung Karno—Inggit memilih pergi. Meminta Kusno menceraikannya dan memulangkannya kembali ke Bandung. Kota di mana ia dulu kali pertama dengan Kusno muda sebagai mahasiswa THS. Pertemuan yang menjadi awal dari kesetiaan Inggit mendampingi Kusno. Mengayominya, memberinya semangat, menerjemahkan pikiran-pikiran Kusno pada masyarakat dengan bahasa Sunda, menyelundupkan buku ketika Kusno berada dalam penjara Banceuy, menemaninya ke pembuangan di Ende dan Bengkulu.

Inggit seorang istri, ibu, kekasih, sekaligus teman bagi Kusno dalam perjuangannya sebagai aktivis pergerakan hingga Indonesia di ambang kemerdekaan. Tapi, di ambang momen itulah Inggit berkata “Tidak” pada keinginan Soekarno ketika ia hendak menikah lagi. Demi kata “Tidak” Inggit melupakan pilihan untuk disebut sebagai ibu negara yang tinggal di istana. Demi kata “Tidak” pada keinginan lelaki, perempuan Sunda yang sederhana ini kembali meracik dan menjual jamu di Bandung. Betapa mahalnya kata “Tidak” yang harus dibayar Inggit. Tapi betapa dengan kata itu, ia kembali ke Bandung dengan seluruh harga diri dan marwahnya sebagai perempuan, sebagai manusia yang merdeka.

Monolog Inggit telah dipentaskan delapan kali dalam tiga tahun, sejak tahun 2011 hingga 2014.