Titimangsa

Ronggeng Dukuh Paruk


Pementasan monolog yang diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (salah satu karya sastra terbaik penulis Indonesia) yang mengisahkan kegetiran hidup seorang ronggeng (penari Tayub) bernama Srintil dan relasinya dengan kehidupan sosial masyarakat Padukuhan Paruk. Secara ringkas, cerita ini mengambil latar belakang kehidupan rakyat jelata di Banyumas, pada 1960-an hingga meletusnya G-30S/PKI pada 1965, yang kemudian memaksa Srintil dan seluruh warga dukuh Paruk, orang-orang biasa, terseret dalam kegetiran pergolakan sejarah tanpa mereka pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Getir, ironi, penuh drama, nilai-nilai cinta, dan kemanusian.

Cerita dimulai saat  Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari orang biasa hingga pejabat-pejabat kalurahan desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya mereka terbawa arus dan divonis sabagai manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar, ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan,. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak dilakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.

Pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia bertekat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani pria manapun. Ia ingin menjadi wanita rumahan. Dan ketika harapan muncul dan tumbuh, Srintil kembali terhempas, yang membuat jiwanya berantakan tanpa harkat secuil pun.